Rekrutmen Hacker Muda Korea Utara: Gaji Menggiurkan tapi Kerja Brutal hingga 10 Jam Sehari

Rekrutmen Hacker Muda Korea Utara: Gaji Menggiurkan tapi Kerja Brutal hingga 10 Jam Sehari

Korea Utara memiliki sistem rekrutmen hacker yang terstruktur dan selektif. Setiap tahun, negara ini memilih sekitar 150 hingga 200 siswa terbaik dari sekolah menengah usia 11-12 tahun untuk dilatih dalam ilmu komputer. Program pendidikan cyber ini sudah berjalan lebih dari satu dekade.

Pada usia 17 tahun, para siswa dengan prestasi tertinggi dikirim ke universitas terkemuka Korea Utara. Di sana mereka menjalani seleksi ketat, dan yang lolos akan bergabung dengan unit siber militer negara sebagai hacker profesional. Pelatihan mereka mencakup protokol mata uang kripto, rekayasa balik perangkat, serta matematika dan bahasa asing.

Siswa yang tidak terpilih menjadi hacker tidak lantas menganggur. Mereka dilatih untuk mengembangkan software atau aplikasi bagi perusahaan-perusahaan Barat melalui pekerjaan jarak jauh. Ini menunjukkan Korea Utara memanfaatkan seluruh talent pool teknis yang ada.

Insentif finansial untuk hacker yang berhasil tergolong besar di standar Korea Utara. Jika operasi peretasan mereka sukses, mereka bisa membawa pulang 30% dari total keuntungan dalam dolar AS. Sebagai bonus, hacker berprestasi mendapat apartemen seluas 132 meter persegi di Pyongyang tempat orang tua mereka juga bisa tinggal.

Lim Jongin, profesor emeritus di sekolah keamanan siber Korea University, menjelaskan kontras antara kedua Korea: “Sementara siswa-siswa terbaik Korea Selatan mungkin mengejar karir di bidang kedokteran atau karir bergengsi lainnya, Korea Utara menyalurkan talenta terbaiknya ke dalam program nuklir dan siber yang pada dasarnya menjamin masa depan mereka.” Hacker juga mendapat privilege berupa akses perjalanan ke negara sekutu seperti China tempat mereka bisa menggunakan internet bebas.

Namun realitas kerja mereka jauh dari ideal. Hacker Korea Utara yang dikirim ke luar negeri hidup dalam kondisi mendesak—tinggal di ruang terbatas, bekerja lebih dari 10 jam per hari, dan terus diawasi ketat. Mereka wajib memenuhi target bulanan atau menghadapi hukuman dan penghinaan.

Nam Bada, direktur eksekutif PSCORE, mengungkap sisi gelap profesi ini: “Selalu ada tekanan untuk terus menghasilkan uang. Tekanannya sangat ekstrem, sehingga orang-orang memiliki masalah kesehatan yang sebelumnya tidak mereka miliki.” Sistem ini menunjukkan bagaimana Korea Utara mengubah talenta muda menjadi aset cyber, namun dengan beban psikologis yang signifikan.

Sumber: Detik Inet

Rekomendasi

Scroll to Top