Batik Banyuwangi Bukan Cuma Warisan, Tapi Mesin Penghasil Ekonomi Baru

Batik Banyuwangi Bukan Cuma Warisan, Tapi Mesin Penghasil Ekonomi Baru

Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang memasuki edisi ke-14 menunjukkan bagaimana sebuah acara budaya bisa berubah menjadi katalis pertumbuhan ekonomi lokal. Perhelatan yang berlangsung pada 7 November 2026 ini menampilkan koleksi busana dari 16 pembatik lokal dengan beragam desain modern yang tetap menghormati karakter tradisional.

Tahun ini, BBF mengangkat motif baru bernama Sabuk Mangir Latar Ukel—perpaduan antara garis tegas Sabuk Mangir dan liukan lembut Latar Ukel. Kombinasi ini dirancang untuk merepresentasikan keseimbangan nilai kehidupan, perlindungan, dan keanggunan budaya masyarakat Using yang menjadi identitas khas Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menekankan bahwa festival ini bukan hanya panggung fashion. “Melalui festival ini, kita ingin motif-motif batik Banyuwangi terus dikenal, diwariskan, dan dikembangkan. Batik bukan hanya warisan budaya yang harus kita jaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat,” katanya. Pemerintah daerah terus mendorong penggunaan batik lokal di sekolah dan instansi sekaligus membuka ruang promosi bagi para perajin.

Dampak nyata terlihat dari pertumbuhan jumlah pembatik. Firman Syauqi dari Godho Batik—salah satu UMKM yang mengikuti festival sejak 2013—kini mampu menjual hingga 750 kain batik setiap bulan dengan harga berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 5 juta per kain. “Festival ini memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi perajin lokal,” ujarnya.

Ekosistem yang terbangun sejak awal BBF juga terbukti efektif. Jika dulu pembatik lokal hanya segelintir, kini lebih dari 60 pembatik telah terdaftar dalam asosiasi. Regenerasi pembatik muda juga terjadi melalui jalur pendidikan, seperti program khusus di SMKN 2 Tegalsari yang membekali lulusan dengan keterampilan industri batik.

Kolaborasi Pemkab Banyuwangi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember pada BBF 2026 menunjukkan komitmen multi-stakeholder untuk menopang industri kreatif lokal. Dengan momentum ini, batik Banyuwangi tidak hanya terawat sebagai identitas budaya, melainkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi komunitas perajinnya.

Sumber: Detik.com

Rekomendasi

Scroll to Top