
Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berulang dinilai bukan semata soal kebijakan moneter. Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyebut akar masalahnya justru ada di struktur industri nasional yang semakin melemah—sebuah fenomena yang dikenal sebagai deindustrialisasi, yakni kondisi di mana peran sektor manufaktur dalam perekonomian terus menyusut.
Fithra menjelaskan, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini hanya sekitar 18 persen. Angka ini mencerminkan kemampuan Indonesia yang terbatas dalam memproduksi barang untuk diekspor. Akibatnya, neraca perdagangan dan transaksi berjalan ikut terganggu, yang pada akhirnya menekan nilai rupiah.
“Jadi masalah (pelemahan) rupiah itu lebih struktural. Makanya turun terus dan meleset terus. Sehingga sektor mana yang paling bisa terdampak, itu sektor manufaktur lagi akhirnya,” kata Fithra dalam ANTARA Business Forum 2026 di Jakarta, Rabu (23/7/2026).
Masalah ini diperparah oleh ketergantungan industri dalam negeri pada bahan baku dan komponen impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis membengkak. “Ketika dia membutuhkan input dari luar, harganya jadi semakin mahal. Jadi, ini jadi kayak vicious circle. Jadi kayak satanic loop,” tambah Fithra, menggambarkan siklus setan yang sulit diputus.
Sebagai solusi, Fithra mendorong Indonesia untuk memperkuat industrialisasi secara bertahap, termasuk memproduksi sendiri bahan-bahan yang selama ini masih diimpor. Langkah ini diyakini tidak hanya bisa meringankan tekanan terhadap rupiah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan membuka lebih banyak lapangan kerja formal. Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah sendiri tercatat menguat 66 poin ke level Rp17.818 per dolar AS.
Membangun fondasi industri yang kuat memang bukan pekerjaan semalam, tapi tanpa langkah ke arah itu, rupiah akan terus rentan terhadap guncangan yang seharusnya bisa diminimalkan dari dalam negeri sendiri.
Sumber: Antara News




