
Kain-kain tradisional Indonesia berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan, tapi butuh lebih dari sekadar keindahan motif. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) kini mendorong dua senjata sekaligus: trend forecasting—yakni riset dan prediksi tren pasar global—serta perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) agar produk fesyen berbasis wastra Nusantara bisa bersaing di luar negeri.
Direktur Fesyen Kemenekraf Iffah Sa’aidah menjelaskan bahwa dengan memahami tren pasar, desainer lokal bisa mengolah wastra menjadi produk pakaian siap pakai (ready-to-wear) yang diminati konsumen global tanpa harus mengorbankan identitas budayanya. “Kementerian Ekonomi Kreatif melihat peran trend forecasting dalam mengangkat Wastra Nusantara, dan memberikan dukungan agar produk desainer lokal tak hanya berdaya saing global tetapi juga terlindungi secara HKI,” kata Iffah.
Di sisi perlindungan hukum, Kemenekraf memfasilitasi pendaftaran merek, hak cipta desain, hingga motif kain. Langkah ini penting agar karya desainer Indonesia punya kepastian hukum saat mulai dipasarkan ke mancanegara, sekaligus mendongkrak nilai ekonomi dari karya kreatif yang dihasilkan.
Indonesian Fashion Chamber (IFC) selaku mitra strategis acara IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) menegaskan bahwa trend forecasting tidak boleh berhenti di atas panggung peragaan busana saja. Project Officer IN2MOTIONFEST x JMFW Ali Charisma menekankan pentingnya kesiapan bisnis secara menyeluruh. “Dengan Trend Forecasting sebagai inspirasi, karya desainer tidak hanya diarahkan pada keindahan panggung runway, melainkan diarahkan pada kesiapan bisnis, costing, pricing, dan digital merchandising,” ujar Ali.
Untuk mewujudkan itu, serangkaian masterclass, seminar, workshop, serta forum dan summit industri akan digelar sebagai bagian dari acara tersebut. Para pelaku fesyen, mulai dari brand besar hingga UKM, didorong untuk memahami struktur biaya, strategi harga, dan pemasaran digital agar produk mereka benar-benar siap bersaing secara internasional.
IN2MOTIONFEST x JMFW sendiri akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Perhelatan ini dirancang sebagai jembatan antara pelaku industri fesyen lokal dengan jaringan pembeli dan perdagangan internasional, sehingga wastra Nusantara tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk bernilai ekonomi tinggi yang siap menembus pasar dunia.
Sumber: Antara News




