
Puluhan kereta rel listrik (KRL) yang beroperasi di Indonesia sudah memasuki usia senja — bahkan ada yang sudah lebih dari 40 tahun. Untuk mengatasinya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI berencana mendatangkan kereta bekas dari Jepang sebagai solusi cepat sambil menunggu industri kereta dalam negeri siap memenuhi kebutuhan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan, alasan memilih kereta bekas bukan kereta baru adalah soal waktu. Kalau memesan kereta baru, prosesnya bisa memakan waktu satu hingga dua tahun dan berisiko mengganggu produksi kereta buatan dalam negeri. Sementara kereta bekas bisa tiba jauh lebih cepat. “Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi,” ujarnya.
KAI berencana mengimpor total 23 rangkaian KRL, yang terdiri dari tujuh rangkaian tipe SF12 — artinya satu rangkaian terdiri dari 12 gerbong — dan 16 rangkaian tipe SF8 dengan delapan gerbong per rangkaian. Perbedaan jumlah gerbong ini bukan tanpa alasan: tidak semua stasiun di Indonesia memiliki peron yang cukup panjang untuk menampung 12 gerbong sekaligus.
Bobby menambahkan, begitu izin turun, proses mendatangkan kereta bekas ini hanya butuh satu hingga dua bulan. “Rencana akan kita pakai 10 tahun dan ini segera kita lakukan karena sudah banyak komplain (dari pengguna jasa),” katanya.
Langkah ini pada dasarnya adalah jembatan sementara — KAI menargetkan kereta-kereta impor tersebut digunakan selama satu dekade ke depan, seiring upaya memperkuat kemampuan produksi kereta dalam negeri agar suatu saat bisa berdiri sendiri tanpa bergantung pada impor.
Sumber: Antara News
Rekomendasi

Makau Bukan Hanya Kasino: Destinasi Wisata Sejarah dan Kuliner Halal Menunggu di Ruins of St Paul’s

Kelompok Advokasi Desak Polri Selidiki Dugaan Pemalsuan Dokumen Pendidikan Gibran

Jenderal Richard Tampubolon Dilantik Jadi Wakil Menteri Pertahanan

