ITS Bangun Platform Digital untuk Atasi Kekacauan Data Pertanian di Kawasan Transmigrasi NTT

ITS Bangun Platform Digital untuk Atasi Kekacauan Data Pertanian di Kawasan Transmigrasi NTT

Kawasan Transmigrasi Kobalima Timur di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, selama ini kesulitan mengelola data pertaniannya karena informasi soal petani, lahan, hingga hasil panen tersebar di berbagai tempat dan tidak terhubung satu sama lain. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hadir untuk membenahi masalah ini lewat sebuah sistem berbasis web — artinya platform yang bisa diakses melalui browser internet.

Kondisi sebelumnya memang cukup memprihatinkan. “Sulit sekali untuk melakukan kajian program pengembangan di sini. Terkadang datanya tidak terisi, atau saat kita cek kembali di lapangan ternyata tidak sesuai,” kata Dominggus Manek, Kepala Bidang Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Malaka.

Sistem yang dikembangkan TEP ITS memungkinkan semua informasi penting dikumpulkan dalam satu tempat, mulai dari profil petani, kondisi lahan, hasil panen, ketersediaan infrastruktur, hingga ruang pengaduan bagi warga yang ingin melaporkan masalah mereka. Dengan begitu, pemerintah daerah punya bahan yang lebih lengkap saat menyusun program atau kebijakan.

Sebelum sistem ini ada, pelaporan di Kabupaten Malaka masih dikerjakan secara manual. “Sebelumnya pelaporan kami manual. Kehadiran sistem ini memudahkan kami dalam melapor, mengevaluasi, serta menyimpan data jangka panjang agar tidak hilang,” ujar Maria Florentia Bere Tay, Pelaksana Harian Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Malaka.

Sistem ini sudah melewati uji coba awal melalui diskusi bersama jajaran pemerintah Kabupaten Malaka untuk mendapatkan masukan dan memastikan sistemnya sesuai kebutuhan lapangan. Kobalima Timur sendiri termasuk dalam 45 kawasan transmigrasi prioritas nasional yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Selain masalah data, kawasan ini juga masih bergulat dengan tantangan nyata di sektor pertanian seperti keterbatasan air irigasi, sulitnya mendapat bibit dan pupuk, serta belum memadainya fasilitas pascapanen. Data BPS 2025 mencatat luas panen padi di Kabupaten Malaka mencapai 7.855 hektare dengan total produksi 38.486 ton gabah kering giling. Dengan sistem digital yang lebih rapi, harapannya data seperti ini bisa menjadi dasar yang kuat bagi pemerintah daerah untuk merencanakan pembangunan dan mengajukan dukungan ke pusat.

Sumber: Antara News

Rekomendasi

Scroll to Top