
Bank Jago berhasil meningkatkan profitabilitas signifikan pada kuartal ketiga 2026. Laba bersih mereka tumbuh separuh lipat menjadi Rp298 miliar dibanding periode sama tahun lalu yang hanya Rp199 miliar, sementara aset perusahaan meloncat dari Rp34,5 triliun menjadi Rp42,1 triliun—pertumbuhan sebesar 22 persen dalam setahun.
Kesuksesan ini bukan kebetulan. Direktur Utama Arief Harris menjelaskan bahwa Bank Jago menjalankan strategi pertumbuhan yang selektif dan hati-hati. “Fokus kami yang mengedepankan pertumbuhan berkualitas, baik pengumpulan dana maupun penyaluran kredit, berdampak positif pada pencapaian kinerja serta posisi fundamental bank yang berada dalam posisi sangat baik,” ujarnya.
Kepercayaan pelanggan terhadap platform digital bank ini terus menguat. Hingga akhir September 2026, Bank Jago telah melayani 19 juta nasabah, dengan 13,1 juta di antaranya aktif menggunakan aplikasi mobile mereka untuk berbagai transaksi keuangan.
Dari sisi penghimpunan dana, Bank Jago mengumpulkan Rp28,9 triliun dana pihak ketiga—naik 21 persen dari tahun sebelumnya. Komposisi dana terdiri dari tabungan dan rekening giro (53 persen atau Rp15,4 triliun) serta deposito (47 persen atau Rp13,5 triliun), menunjukkan bauran sumber dana yang sehat.
Penyaluran kredit juga tumbuh konsisten mencapai Rp27,9 triliun, meningkat 19 persen year-on-year. Meski melakukan ekspansi agresif, bank ini tetap menjaga kualitas portofolio kredit dengan rasio kredit macet hanya 0,9 persen—jauh lebih baik dari rata-rata industri perbankan nasional.
Bank Jago memperkuat ekosistem bisnis dengan berkolaborasi dengan platform investasi Bibit dan Stockbit. Melalui integrasi ini, lebih dari 3,6 juta nasabah dapat langsung mengakses produk investasi seperti reksadana, obligasi, dan saham dari aplikasi mereka. Sementara kerjasama dengan perusahaan pembiayaan seperti BFI Finance membantu mempercepat pertumbuhan kredit yang terukur.
Posisi permodalan bank juga sangat solid dengan rasio kecukupan modal mencapai 27,5 persen. Angka ini menunjukkan bahwa Bank Jago memiliki cukup cadangan untuk terus berinovasi dan mengembangkan bisnisnya tanpa terbebani masalah likuiditas. Momentum pertumbuhan ini dijadikan fondasi untuk ekspansi lebih lanjut di masa depan yang lebih menguntungkan.
Sumber: Antara News
Rekomendasi

PEVS 2026 Catat 35 Ribu Pengunjung, Minat Publik Terhadap Kendaraan Listrik Terus Meningkat

Adopsi AI Justru Bikin Perusahaan Asia-Pasifik Tertinggal dalam Modernisasi IT

Industri Kakao Olahan Indonesia Tumbuh, Kemenperin Manfaatkan Perjanjian Perdagangan untuk Perluas Ekspor

