Bakrie & Brothers Lampaui Target: Pendapatan Rp4,12 Triliun di Kuartal III 2026

Bakrie & Brothers Lampaui Target: Pendapatan Rp4,12 Triliun di Kuartal III 2026

Bakrie & Brothers menutup kuartal ketiga 2026 dengan pencapaian finansial yang mengesankan. Perusahaan manufaktur dan infrastruktur itu berhasil meraup pendapatan bersih Rp4,12 triliun, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan pendapatan mencapai 55,45 persen atau sekitar Rp1,47 triliun lebih tinggi dari kuartal III 2025 yang hanya Rp2,65 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh performa solid dari berbagai divisi bisnis internal perusahaan.

Keuntungan kotor yang dicatat perusahaan juga tumbuh pesat, mencapai Rp1,13 triliun di kuartal III 2026, atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode sama tahun sebelumnya. Demikian disampaikan Direktur Utama & CEO Anindya N. Bakrie dalam keterangan resminya.

Laba operasional perusahaan mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara metrik keuangan lainnya—meningkat lebih dari 21 kali lipat menjadi Rp596,24 miliar. Ukuran profitabilitas lain, EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization), juga membukukan rekor Rp810,25 miliar, naik hampir delapan kali lipat.

Pertumbuhan didorong tiga pilar utama bisnis: divisi otomotif listrik VKTR yang naik 48,6 persen, industri logam Bakrie Metal Industries yang tumbuh 26,1 persen, dan infrastruktur jalan tol Bakrie Indo Infrastructure yang melompat 248,3 persen berkat konsolidasi Cimanggis Cibitung Tollways.

Divisi VKTR sendiri meraup Rp1,06 triliun pendapatan, didukung penjualan kendaraan listrik dan suku cadang otomotif yang meningkat. Sementara divisi infrastruktur mencatat Rp952,25 miliar, sebagian besar dari operasi jalan tol yang baru dikonsolidasikan penuh.

Namun, manajemen mengakui adanya tekanan pada profitabilitas bersih karena faktor eksternal. “Meski demikian, perusahaan mencatatkan penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi,” kata Direktur Roy Hendrajanto M. Sakti.

Meskipun menghadapi tantangan tingkat suku bunga, manajemen tetap optimis meraih pertumbuhan jangka panjang. Keyakinan ini dibangun atas fondasi keuangan yang semakin solid, proyek infrastruktur strategis, dan ekspansi ke sektor-sektor masa depan seperti energi terbarukan, pengolahan limbah menjadi energi, dan elektrifikasi transportasi—semua dirancang untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan kontribusi pembangunan nasional.

Sumber: Antara News

Rekomendasi

Scroll to Top