
Indonesia tidak perlu menguasai semua teknologi secara mandiri untuk mencapai kedaulatan digital. Justru, yang lebih penting adalah memiliki banyak pilihan penyedia teknologi sehingga tidak terjebak bergantung pada satu pihak saja.
Konsep ini disampaikan Ilham Akbar Habibie, Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), dalam diskusi publik bertajuk “Kedaulatan Digital Indonesia, Realistis atau Utopis?” yang digelar di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Jumat lalu.
Ilham menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara di dunia yang berhasil menguasai seluruh ekosistem teknologi sendirian. “Kalau kita membayangkan kita harus buat semuanya sendiri, negara mana yang bisa? Amerika dengan keadidayaannya pun tidak bisa,” ujarnya. Bahkan Amerika Serikat, sebagai pemimpin teknologi global, tetap membutuhkan kolaborasi internasional dalam rantai pasok industri semikonduktor.
Kedaulatan digital seharusnya dipahami sebagai kemampuan suatu negara untuk mengontrol arah masa depannya, termasuk mempunyai alternatif pilihan ketika mengadopsi teknologi asing. Dalam praktiknya, layanan cloud seperti Google, Amazon Web Services, dan Cloudflare memberikan contoh konkret bagaimana diversifikasi mencegah ketergantungan total pada satu pemain. Prinsip yang sama berlaku di sektor telekomunikasi dengan kehadiran vendor seperti Ericsson, Nokia, dan Huawei.
Ilham menekankan bahwa saling ketergantungan dengan negara lain bukanlah hal yang harus dihindari, melainkan dikelola dengan seimbang. Dia menjelaskan visi tersebut sebagai sistem di mana “kita punya interdependency (saling bergantung), jadi dia juga ada dependency dengan kita, kita pun demikian dengan mereka, sehingga kita punya hubungan yang baik, normal, ada keterbukaan.” Dengan cara ini, Indonesia dapat mempertahankan kontrol atas kepentingan strategisnya sambil tetap terbuka terhadap kolaborasi global.
Sumber: Detik Inet
Rekomendasi

PEVS 2026 Catat 35 Ribu Pengunjung, Minat Publik Terhadap Kendaraan Listrik Terus Meningkat

Adopsi AI Justru Bikin Perusahaan Asia-Pasifik Tertinggal dalam Modernisasi IT

Industri Kakao Olahan Indonesia Tumbuh, Kemenperin Manfaatkan Perjanjian Perdagangan untuk Perluas Ekspor

