
Fenomena cuaca El Nino kini merambah ke sektor perdagangan komoditas. Pemerintah menetapkan harga referensi (HR) biji kakao untuk periode Oktober 2026 naik cukup signifikan, dipicu kekhawatiran atas turunnya produksi kakao di kawasan penghasil utama dunia.
Kementerian Perdagangan menetapkan HR biji kakao di angka 6.057,87 dolar AS per metrik ton, naik 422,12 dolar AS atau sekitar 7,49 persen dibanding periode sebelumnya. Harga referensi ini adalah patokan yang digunakan pemerintah untuk menghitung berbagai pungutan ekspor.
Kenaikan ini langsung berpengaruh pada harga patokan ekspor (HPE) biji kakao, yakni harga acuan yang dipakai saat kakao dikirim ke luar negeri. HPE periode Oktober 2026 ditetapkan sebesar 5.686 dolar AS per metrik ton, naik 416 dolar AS atau 7,88 persen dari bulan sebelumnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan alasan di balik kenaikan ini. “Kekhawatiran terhadap penurunan kuantitas dan kualitas produksi akibat dampak El Nino di kawasan produksi utama biji kakao, yaitu Afrika Barat, memicu kenaikan HR dan HPE biji kakao periode Oktober 2026,” ujarnya.
Selain kakao, pemerintah juga memperbarui HPE sejumlah komoditas lain. Beberapa jenis kayu olahan mengalami kenaikan HPE, sementara getah pinus justru turun menjadi 1.020 dolar AS per metrik ton, turun 3,04 persen dari September 2026. Beberapa produk kayu veneer dan kayu lapis juga tercatat mengalami penurunan.
Perubahan harga-harga ini berlaku sepanjang bulan Oktober 2026 dan mengacu pada regulasi keuangan yang berlaku. Bagi pelaku usaha ekspor komoditas, penetapan ini menjadi acuan penting dalam menghitung biaya dan keuntungan perdagangan ke pasar internasional.
Sumber: Antara News




