
Industri furnitur Indonesia sebenarnya sudah punya senjata andalan: bahan baku yang melimpah. Sayangnya, itu saja belum cukup untuk bersaing di pasar internasional. Kementerian Perdagangan menilai ada dua hal yang masih perlu diperkuat, yaitu merek (brand) dan desain produk.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyebut produk furnitur dari negara-negara Eropa bisa laku mahal bukan semata karena kualitas bahannya, melainkan karena mereka sudah punya nama merek yang kuat di benak konsumen. Indonesia, menurutnya, punya potensi yang sama untuk membangun hal itu. “Karena mereka sudah punya brand sendiri. Jadi yang mereka jual kan nilai tambah, brand awareness. Jadi sudah saatnya kalau kita berani, kita juga sudah bisa buat brand,” ujarnya dalam konferensi pers Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (30/9/2026).
Selain soal merek, desain juga jadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Setiap negara tujuan ekspor punya selera dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pelaku industri furnitur perlu menyesuaikan produknya agar lebih diterima pasar luar negeri. Fajarini menegaskan bahwa semakin tinggi nilai desain yang ditawarkan, semakin besar pula harga yang bisa dipatok.
Kabar baiknya, permintaan furnitur di pasar global sedang dalam tren positif. “Sebenarnya untuk furnitur itu permintaannya tumbuh. Tapi memang furnitur kita ini perlu didorong supaya lebih bagus lagi,” ungkap Fajarini.
Momentum ini coba dimanfaatkan melalui TEI ke-41 yang dijadwalkan berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang. Pameran dagang tahunan itu akan memberi ruang lebih besar bagi sektor furnitur sebagai salah satu industri padat karya yang dipromosikan kepada calon pembeli dari luar negeri. Ini bisa jadi panggung penting bagi pelaku usaha furnitur lokal untuk mulai memperkenalkan identitas merek mereka ke dunia.
Sumber: Antara News




