
Peluang dagang Indonesia ternyata masih menyimpan potensi besar yang belum banyak dilirik—yakni negara-negara kepulauan di kawasan Pasifik. Ekonom senior Indef (lembaga kajian ekonomi independen), Aviliani, mengingatkan bahwa kawasan ini layak dijadikan target pasar ekspor baru bagi Indonesia.
“Negara-negara kepulauan itu masih belum banyak dilihat, ya. Padahal ini juga rasanya sangat penting untuk dilihat menjadi market (pasar) baru buat Indonesia,” kata Aviliani dalam forum bisnis yang digelar di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Salah satu jalan yang ia rekomendasikan adalah lewat aksesi CPTPP, singkatan dari Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership—sebuah perjanjian perdagangan bebas antarnegara di kawasan Pasifik. Bergabung dengan CPTPP dinilai bisa memperdalam keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok regional sekaligus membuka akses ke jaringan negara-negara anggotanya.
Aviliani juga menyoroti sejumlah perjanjian dagang yang sudah disepakati namun belum sepenuhnya berjalan. “Kami lihat peluang, ya. Perjanjian-perjanjian sebenarnya ada yang sudah disepakati, tetapi implementasinya belum. Ada yang dijalankan, tetapi pengusaha belum sepenuhnya diajak,” ujarnya.
Ia mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam merancang perjanjian dagang. “Jangan sampai perjanjiannya membuat mereka berhasil masuk ke sini dengan barangnya, tetapi kita nggak bisa banyak mengekspor,” tegasnya. Artinya, setiap kesepakatan harus benar-benar menguntungkan dua pihak, bukan justru membanjiri pasar dalam negeri dengan produk asing.
Senada dengan itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan bahwa perluasan pasar ekspor bukan sekadar soal perdagangan, tapi juga kunci menarik investasi baru yang berorientasi ekspor dan menjadikan Indonesia bagian dari rantai produksi global. Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpeluang bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai basis produksi yang diperhitungkan di tingkat internasional.
Sumber: Antara News




