:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320239/original/070492200_1786341140-c57a18a3-9595-4171-9ddf-5e5fedc25804.jpg)
Penggunaan pesawat tempur Super Tucano dalam operasi militer di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, memantik protes dari pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Merespons hal itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto angkat bicara pada Minggu, 27 September 2026.
Agus tidak melunak soal posisi TNI terhadap kelompok tersebut. “OPM (Organisasi Papua Merdeka) ini kan separatis, harus ditumpas. Tidak boleh ada separatis di negara kita,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi jawaban langsung atas keluhan OPM yang mengklaim operasi pesawat Super Tucano melukai anggota mereka dan berdampak pada warga sipil.
Menurut Agus, penanganan situasi di Papua dijalankan lewat dua jalur sekaligus, yakni pendekatan keamanan dan pendekatan teritorial — atau dengan kata lain, operasi militer dibarengi upaya membangun hubungan dengan masyarakat setempat. Kedua jalur ini dinilai perlu berjalan bersamaan agar pembangunan dan kesejahteraan warga Papua bisa ikut terdorong.
Meski begitu, Panglima TNI mengakui bahwa TNI tidak bisa bekerja sendiri dalam menyelesaikan persoalan Papua. Ia menekankan perlunya kolaborasi dari berbagai pihak agar penanganan situasi di sana tidak semata bertumpu pada kekuatan militer.
Pernyataan Panglima ini mencerminkan pendekatan ganda yang selama ini diusung pemerintah dalam menghadapi konflik di Papua — tegas di sisi keamanan, namun tetap membuka ruang bagi solusi yang lebih luas dan melibatkan banyak elemen.
Sumber: Liputan6
Rekomendasi

Komdigi Sebut Konten Banjir Aceh Tetap Dapat Diakses Publik

Makau Bukan Hanya Kasino: Destinasi Wisata Sejarah dan Kuliner Halal Menunggu di Ruins of St Paul’s

Kelompok Advokasi Desak Polri Selidiki Dugaan Pemalsuan Dokumen Pendidikan Gibran

