Serangan Drone Ukraina Matikan Pusat Data Yandex, Layanan Raksasa Teknologi Rusia Terganggu

Serangan Drone Ukraina Matikan Pusat Data Yandex, Layanan Raksasa Teknologi Rusia Terganggu

Infrastruktur digital Yandex, perusahaan teknologi terbesar di Rusia, menjadi target serangan drone Ukraina pada pertengahan Oktober. Dua dari lima pusat data milik perusahaan tersebut mengalami kerusakan parah, memicu gangguan masif pada berbagai layanan yang digunakan jutaan pengguna.

Serangan dilakukan pada 8, 9, dan 11 Oktober terhadap fasilitas Yandex di kota-kota Sasovo, Kaluga, dan Vladimir. Pihak Ukraina mengumumkan ini sebagai tindakan membalas serangan serupa yang dilakukan Rusia terhadap pusat data Ukraina sejak akhir September, yang sebelumnya mengganggu konektivitas internet dan layanan seluler di negara mereka.

Yandex mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, perusahaan mengakui gangguan signifikan pada sejumlah layanan utamanya termasuk email, cloud storage, dan platform pembayaran digital yang digunakan masyarakat luas.

Dampak serangan melampaui sekadar layanan Yandex sendiri. Karena pusat data Yandex juga berfungsi sebagai infrastruktur cloud untuk berbagai sektor, gangguan ini merambat ke bank online T-Bank, platform kripto Rapira, sistem informasi kereta api Rusia, hingga situs resmi klub sepak bola Spartak Moscow.

Pusat data Sasovo menjadi signifikan karena menampung dua komputer super (supercomputer) bernama Chervonenkis dan Lyapunov yang dilengkapi chip Nvidia A100. Perangkat ini difungsikan untuk melatih model kecerdasan butinan Rusia bernama YandexGPT. Meskipun Chervonenkis pernah menempati peringkat 19 komputer super terkuat pada 2021, Yandex tidak mampu meningkatkan kapasitasnya akibat sanksi internasional.

Insiden ini menandai pergeseran strategi konflik ke dimensi baru: targeting infrastruktur digital kritis. Pola serupa telah terlihat sebelumnya ketika Iran menghancurkan pusat data Amazon di Bahrain dan Uni Emirat Arab merespons serangan militer Israel dan Amerika Serikat pada Februari 2026.

Perang pusat data ini mencerminkan pentingnya infrastruktur cloud dan AI dalam kekuatan ekonomi dan militer modern. Kedua belah pihak menyadari bahwa mengganggu sistem informasi sama dengan melemahkan kemampuan operasional lawan di era digital ini.

Sumber: Detik Inet

Rekomendasi

Scroll to Top