Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, Muhamad Mardiono, menegaskan bahwa nasib petani Indonesia tidak bisa dipisahkan dari soal kepastian lahan. Tanpa jaminan atas lahan yang mereka garap, ketahanan pangan nasional dinilai sulit terwujud secara berkelanjutan.
Mardiono secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, penguatan sektor pertanian harus dilakukan secara menyeluruh — mulai dari peningkatan produktivitas, penyediaan sarana produksi, hingga akses pasar bagi para petani.
Salah satu langkah yang mendapat apresiasi Mardiono adalah pembukaan lima kawasan peternakan terpadu. Ia memandang integrasi antara pertanian dan peternakan sebagai cara untuk mendongkrak produksi sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha pangan. “Pengembangan kawasan peternakan terpadu merupakan langkah strategis. Kita tidak hanya berbicara mengenai produksi pangan, tetapi bagaimana membangun sebuah ekosistem yang saling terintegrasi antara pertanian, peternakan, dan kesejahteraan masyarakat,” jelas Mardiono.
Soal konflik lahan pertanian juga menjadi perhatian serius Mardiono. Ia mendorong penyelesaian sengketa lahan secara adil, transparan, dan sesuai hukum, serta menekankan perlunya percepatan reforma agraria — yakni program penataan ulang kepemilikan dan pengelolaan lahan agar lebih berpihak kepada rakyat kecil, khususnya petani.
“Ketahanan pangan tidak akan kuat kalau petaninya tidak memiliki kepastian terhadap lahan yang mereka garap. Karena itu, penyelesaian konflik lahan harus dilakukan secara berkeadilan dan reforma agraria perlu terus dipercepat agar lahan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan produktivitas pertanian nasional,” ujar Mardiono pada Minggu, 27 Juli 2026.
Mardiono menekankan bahwa pembangunan sektor pangan tidak boleh hanya mengejar angka produksi semata. Koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan dinilai krusial agar agenda ketahanan pangan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, bukan sekadar tercatat di atas kertas.
Sumber: Republika
Rekomendasi

Komdigi Sebut Konten Banjir Aceh Tetap Dapat Diakses Publik

Makau Bukan Hanya Kasino: Destinasi Wisata Sejarah dan Kuliner Halal Menunggu di Ruins of St Paul’s

Kelompok Advokasi Desak Polri Selidiki Dugaan Pemalsuan Dokumen Pendidikan Gibran

