
Perusahaan teknologi Apple memiliki panduan ketat tentang bagaimana iPhone boleh ditampilkan di layar lebar dan layar kaca. Aturan ini berlaku untuk semua tim produksi film maupun serial televisi yang ingin menampilkan gadget berlogo buah apel tersebut.
Salah satu syarat paling aneh adalah karakter jahat atau antagonis dalam cerita tidak boleh menggunakan iPhone. Hal ini berarti jika ada penjahat atau pendekar gelap dalam alur cerita, mereka harus menggunakan ponsel merek lain atau gadget fiktif yang tidak nyata.
Selain itu, logo Apple dan desain iPhone harus terlihat jelas di layar. Ini memastikan bahwa penonton dapat dengan mudah mengenali merek tersebut, sehingga memberikan nilai promosi yang maksimal bagi Apple tanpa perlu mengeluarkan biaya iklan konvensional.
Dengan menetapkan kriteria semacam ini, Apple menggunakan strategi product placement—menempatkan produk mereka secara organik dalam narasi film atau serial. Pendekatan ini jauh lebih halus dan efektif dibanding iklan langsung, karena penonton melihat produk digunakan secara natural oleh karakter yang mereka sukai.
Praktik Apple ini menunjukkan bagaimana perusahaan besar memanfaatkan industri hiburan untuk memperkuat citra merek dan jangkauan pasar mereka di kalangan jutaan pemirsa di seluruh dunia.
Sumber: Detik Inet
Rekomendasi

PEVS 2026 Catat 35 Ribu Pengunjung, Minat Publik Terhadap Kendaraan Listrik Terus Meningkat

Adopsi AI Justru Bikin Perusahaan Asia-Pasifik Tertinggal dalam Modernisasi IT

Industri Kakao Olahan Indonesia Tumbuh, Kemenperin Manfaatkan Perjanjian Perdagangan untuk Perluas Ekspor

