Anak Pegang HP Tapi Orang Tua Tak Tahu Isinya? Ini yang Perlu Dilakukan

Anak Pegang HP Tapi Orang Tua Tak Tahu Isinya? Ini yang Perlu Dilakukan

Di tengah derasnya arus digital, banyak orang tua kini menghadapi dilema yang sama: memberi anak akses ke ponsel tapi khawatir dengan konten yang bisa mereka temukan. Ancamannya bukan cuma soal kecanduan layar, tapi jauh lebih serius — mulai dari konten pornografi, perundungan siber atau cyberbullying, penipuan, hingga predator online yang menyasar anak-anak.

Tantangan ini makin berat karena teknologi kecerdasan buatan (AI) ikut bermain. UNICEF memperingatkan bahwa AI kini semakin sering dimanfaatkan untuk membuat gambar atau video seksual palsu yang melibatkan anak — dikenal dengan istilah deepfake. Dalam sebuah studi yang mencakup 11 negara, setidaknya 1,2 juta anak dilaporkan menjadi korban manipulasi foto menjadi deepfake seksual hanya dalam satu tahun.

Langkah awal yang bisa dilakukan orang tua adalah sekadar bertanya — bukan menggeledah ponsel anak diam-diam. Tanyakan aplikasi apa yang sering dibuka, siapa yang biasa diajak ngobrol, atau gim apa yang sedang dimainkan. Pendekatan ini membangun kepercayaan sekaligus memberi gambaran nyata tentang aktivitas digital anak.

Selain komunikasi terbuka, orang tua bisa mengaktifkan fitur parental control — pengaturan bawaan di ponsel atau platform yang memungkinkan pembatasan aplikasi, waktu layar, hingga pembelian dalam aplikasi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga menganjurkan pengaktifan SafeSearch, yakni fitur pencarian aman yang menyaring konten tidak pantas dari hasil penelusuran.

Untuk risiko cyberbullying, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak. Anak yang tiba-tiba malas pegang HP, mudah cemas setelah menerima pesan, atau enggan berangkat sekolah bisa jadi sedang menghadapi masalah di dunia maya. Jika ini terjadi, anak perlu didorong untuk menyimpan bukti, memblokir pelaku, dan melapor ke platform tempat kejadian berlangsung.

Soal deepfake dan AI, orang tua perlu menjelaskan kepada anak bahwa foto yang sudah beredar di internet tidak selalu bisa ditarik kembali. Karena itu, anak sebaiknya tidak sembarangan mengunggah foto pribadi, terutama yang berpotensi disalahgunakan.

Yang tak kalah penting, UNICEF menegaskan bahwa pendampingan orang tua dan literasi digital — kemampuan anak memahami cara aman berinternet — sama bobotnya dengan fitur keamanan teknis apapun. Membuat kesepakatan bersama anak soal aturan pakai ponsel jauh lebih efektif daripada sekadar memblokir aplikasi tanpa penjelasan, karena anak yang paham alasannya akan lebih siap menghadapi situasi berisiko sendiri.

Sumber: Antara News

Rekomendasi

Scroll to Top