Adopsi AI Justru Bikin Perusahaan Asia-Pasifik Tertinggal dalam Modernisasi IT

Adopsi AI Justru Bikin Perusahaan Asia-Pasifik Tertinggal dalam Modernisasi IT

Paradoks teknologi sedang menghampiri perusahaan-perusahaan besar di Asia-Pasifik. Saat semua tergesa-gesa mengadopsi kecerdasan buatan (AI), justru 49% organisasi di kawasan ini tertinggal atau melewatkan target modernisasi infrastruktur IT mereka. Fenomena ini terungkap dari Modernization Report 2026 pertama kali yang dirilis oleh Kyndryl, penyedia layanan teknologi untuk enterprise.

Riset ini melibatkan 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi secara global, dengan 30% responden berasal dari Asia-Pasifik. Hasilnya menunjukkan bahwa tantangan modernisasi sudah bukan lagi masalah teknis belaka, melainkan menjadi strategi bisnis yang harus diputuskan di level pimpinan tertinggi perusahaan.

Megawaty Khie, Vice President & Managing Director ASEAN & Korea Kyndryl, menjelaskan dilemanya: “Di kawasan Asia-Pasifik, modernisasi bukan lagi soal memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang mendasarinya. Organisasi membutuhkan keduanya.” Perusahaan tidak bisa lagi membuat pilihan hitam-putih antara dua kebutuhan ini.

AI sendiri menjadi pemicu utama investasi infrastruktur modern di wilayah ini. Permintaan AI mendorong adopsi mainframe dan edge computing yang lebih besar, perluasan layanan cloud berbasis SaaS, serta upgrade jaringan dan aplikasi. Bahkan, seluruh organisasi pemilik mainframe di Asia-Pasifik berencana menerapkan AI pada sistem warisan mereka.

Kompleksitas malah bertambah berat. Hingga sembilan kelompok pemangku kepentingan—mulai dari chief information officer, chief technology officer, tim keuangan, hingga dewan direksi—kini harus terlibat dalam setiap keputusan investasi teknologi. Faktor geopolitik dan keamanan data juga menjadi pertimbangan serius yang mengubah cara perusahaan memilih di mana mengolah informasi mereka.

Tren ini menunjukkan bahwa modernisasi IT di era sekarang tidak lagi sekadar soal menggantiistilah teknologi lama dengan yang baru, tetapi memerlukan koordinasi kompleks lintas departemen dan pertimbangan strategis yang jauh lebih luas.

Sumber: Detik Inet

Rekomendasi

Scroll to Top