Serangan Siber 182 Kali Per Detik, TNI Diminta Kuasai Teknologi untuk Hadapi Ancaman Modern

Serangan Siber 182 Kali Per Detik, TNI Diminta Kuasai Teknologi untuk Hadapi Ancaman Modern

Di usia ke-81, TNI menghadapi realitas baru: musuh tidak selalu datang dengan senjata. Presiden Prabowo Subianto menegaskan hal ini di hadapan 3.378 prajurit dari tiga matra saat upacara HUT TNI di Lapangan PRIMA Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10).

Prabowo menyebut Indonesia sudah diserang melalui jalur siber, disinformasi, dan berita bohong. Menurutnya, serangan-serangan ini bertujuan memecah belah bangsa, mengganggu ekonomi, dan mencuri kekayaan negara. Selain itu, penyelundupan ke luar negeri dan masuknya narkotika ke dalam negeri juga ia kategorikan sebagai ancaman nyata bagi kedaulatan dan kelangsungan hidup bangsa.

Angka dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperkuat kekhawatiran itu. Sepanjang 2025, BSSN mencatat sekitar 5,2 miliar anomali trafik internet — rata-rata 182 potensi serangan setiap detiknya. Dari jumlah itu, 93,78 persen berupa malware, yaitu perangkat lunak berbahaya yang bisa berkembang menjadi ransomware — sejenis program jahat yang mengunci data korban lalu meminta tebusan.

Yang lebih mengkhawatirkan, angka tersebut belum mencakup seluruh lalu lintas internet nasional. BSSN mengakui pemantauan mereka baru menjangkau kurang dari 10 persen trafik internet Indonesia, artinya skala ancaman sesungguhnya bisa jauh lebih besar. Hanya dalam rentang 1 Januari hingga 15 April 2026, sudah ada 1,5 miliar anomali yang berhasil dianalisis.

Untuk memperkuat keterlibatan TNI di ranah ini, revisi Undang-Undang TNI yang disahkan pada 2025 secara resmi memasukkan tugas penanggulangan ancaman siber sebagai bagian dari operasi militer selain perang. Dengan dasar hukum itu, TNI kini berperan sebagai pendukung BSSN dan lembaga terkait, khususnya saat serangan menyasar sistem pertahanan atau objek vital negara.

Ancaman disinformasi pun tidak kalah serius. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menemukan 1.674 konten hoaks dalam setahun terakhir, dengan topik terbanyak menyasar isu pemerintahan, politik, dan bencana. Bahkan dua pekan sebelum HUT TNI, beredar dokumen palsu yang mencatut nama Menteri Komunikasi dan Digital, mengklaim akan ada pemadaman internet nasional pada 25-27 September 2026.

Presiden meminta TNI terus belajar, berlatih, dan menguasai teknologi. Ia juga mendorong agar prestasi — bukan senioritas — menjadi dasar pembinaan prajurit. Di tengah ancaman yang terus berubah bentuk, kemampuan adaptasi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kesiapan pertahanan nasional.

Sumber: Antara News

Rekomendasi

Scroll to Top