
Di tengah maraknya teknologi kecerdasan buatan yang bisa menciptakan gambar dan video nyaris sempurna, kemampuan kita untuk membedakan konten asli dari buatan AI menjadi semakin penting. Konten yang terlihat sangat realistis sekalipun belum tentu merekam kejadian nyata.
Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah memperhatikan kejanggalan visual, seperti bentuk jari atau tangan yang aneh, tulisan yang tak terbaca, bayangan yang tidak masuk akal, atau gerakan bibir yang tidak sinkron. Sayangnya, semakin canggih teknologinya, semakin sulit kejanggalan semacam ini ditemukan.
Selain melihat isi konten, penting juga menelusuri asal-usulnya. Periksa siapa yang pertama kali mengunggah, kapan diunggah, dan apakah keterangan yang menyertai konten itu sesuai fakta. Konten yang hanya beredar dari akun-akun anonim tanpa sumber jelas sebaiknya tidak langsung dipercaya.
Untuk foto yang mencurigakan, pencarian gambar terbalik bisa membantu melacak apakah foto itu pernah muncul sebelumnya dengan konteks berbeda. Sebuah foto yang diklaim sebagai peristiwa terkini bisa saja sebenarnya diambil bertahun-tahun lalu.
Informasi teknis yang tersimpan dalam sebuah file foto atau video, yang dikenal sebagai metadata, juga bisa menjadi petunjuk tambahan. Data ini bisa menunjukkan perangkat yang digunakan atau waktu pembuatan, meski tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan karena bisa hilang saat file dibagikan.
Teknologi terbaru bernama Content Credentials kini mulai dikembangkan industri teknologi sebagai solusi jangka panjang. Teknologi ini mencatat secara digital riwayat pembuatan dan perubahan sebuah konten, sehingga pengguna bisa tahu apakah sebuah foto dibuat dengan kamera biasa, diedit, atau melibatkan AI. Meski begitu, belum semua konten yang beredar sudah dilengkapi fitur ini, sehingga kehati-hatian dan literasi digital tetap menjadi senjata utama masyarakat dalam menghadapi era deepfake.
Sumber: Antara News
